"Aku Mencintainya" kata itu
mampu mensugesti otakku untuk terus memikirkannya. Bukan karena kecantikan,
kekayaan ataupun kepintaran yang mampu membuatku merasakan Virus Merah Jambu
yang terus menginfeksi sebuah hati yang telah memerah. Memang kekaguman dan
rasa cinta hanya memiliki perbedaan yang begitu tipis layaknya sebuah epidermis
di kulit daun. Ya aku mengagumi dan mencintainya.
Dia bukanlah sosok wanita yang mempunyai banyak pria, akan tetapi dia yang banyak segala disukai banyak pria. Foto sana, foto sini dengan perempuan maupun laki-laki,bahkan yang lebih sering foto selfi dengan banyak model walaupun dia bukan model, dia hanyalah seorang yang mencintai kesehatan orang lain, wajahnya cantik, apabila tersenyum bagaikan bulan purnama dan suaranya yang sangat merdu dan sering membuatku rindu dengannya. Ya itulah dia orang yang aku cintai diam-diam saat ini. Sebut saja namanya nyai
Sampai saat ini tak pernah sekalipun
aku berani menatap matanya, menyentuhnya ataupun mengobrol lama dengannya. Dia
terlalu sibuk dengan profesinya. Tapi inilah sebuah kenyataan bahwa terlalu
sulit lidahku untuk mengatakan aku mencintaimu, terlalu malu mataku untuk
menatapnya. Akhirnya cinta ini hanya bisa menjadi cinta sembunyi. Cinta yang
selalu bersembunyi dalam hati yang paling dalam.
Malam ini aku termenung di sudut
ruangan rumahku, mengingat semua tentang dirinya. Ku mencoba menuliskan semua
hal tentang dirinya, Tak pernah sedikitpun rasa bosan menghampiriku ketika aku
menuliskan semua tentangnya. Bahkan keadaan sibuk sekalipun ku mencoba untuk
merangkai kata untuk dirinya. Terkadang aku ingin tersenyum sendiri mengingat
semua itu, mengingat cinta yang mampu mencipta sebuah kebodohan. Aku baca kata
demi kata dalam tulisan yang aku buat. Senyuman
selalu menyertaiku ketika aku membaca semua tulisan tentangnya di tulisan yang
aku buat.
Pagi ini sungguh terasa berbeda
dengan pagi sebelumnya, pagi yang indah dengan embun yang menyamarkan
pandangan, matahari yang mengintip malu dari arah timur mempercantik keindahan
alam, kicauan burung yang seolah menyanyikan lagu selamat pagi untukku.
Mulailah ku ambil ponselku dan kuberanikan untuk mengirim pesan bbm singkat
untuk dirinya, walaupun hanya ucapan “selamat pagi”, selang beberapa menit
kemudian terdengar handphoneku mulai bordering tanda ada bbm masuk, aku mulai
merasa senang dan dengan segera ku raih ponselku yang kusimpan di sebelah televisi,
lalu setelah kubuka itu hanyalah sebuah BC dari seseorang yang mempromosikan
barang dagangannya, dalam hatipun agak kesel dan jengkel kepada sang pengirim
BC tersebut. Selang 5 menit kemudian Handphoneku mulai berdering kembali,
kuharap itu BBM dari si “nyai” wanita yang kucinta tapi secara diam-diam. Ternyata
benar perasaanku saat ini, setelah ku lihat itu BBM dari si nyai, sungguh
senangnya hatiku pagi ini yah walaupun dia hanya membalasnya “selamat pagi juga
J” tak butuh banyak waktu langsung
saja kubalas dengan memberikanya puisi.
“walaupun mentari dan rembulan silih
berganti,,
kehadiranmu selalu kunanti,,
walaupun hanya sebuah mimpi,,
akan hadirmu disini J
“
walaupun sebenarnya aku ragu
mengirim puisi ini untuk nyai yah tapi mulai saat ini aku mulai beranikan
diriku untuk bisa dekat dengannya. Singkat cerita kemudian nyai pun membalas
pesan BBM dariku, walaupun hanya balas “makasih, bagus kata-katanya, ini buat
aku a?” nyai memanggil aku dengan panggilan aa. Waduh ini cwe kok jadi polos
begini, mungkin dia sedang lelah karena kutahu semalam dia habis menjalankan
tugas profesinya, mungkin aku mengirimkan puisi bukan pada waktu yang tepat. Dengan
perasaan yang campur aduk seperti gado-gado yang menemaniku saat ini, kubalas
saja “ iya itu buat kamu J,
gimana tugasnya semalam?” setelah ini aku mulai bergegas untuk melaksakan
kegiatanku hari ini, kemudian kulihat kembali handphoneku, kulihat tak ada
pesan BBM dari dirinya, yah mungkin dia telah tidur karena semalam dia sedang
menjalankan tugas profesinya.
Seminggu kemudian…
Hari-hari dengan dirinya semakin dekat, yah walaupun aku dengannya jarang bertemu. Mulailah kuberanikan diriku untuk menemuinya walau kutahu dia itu adalah seorang yang sangat sibuk dengan tugas profesinya, bahkan bisa dikatakan sedang hari liburpun dia masuk seperti biasa, sering kubilang “ kamu itu profesinya apa sih sebenernya satpam? Sambil ku tertawa :D ”
Hari-hari dengan dirinya semakin dekat, yah walaupun aku dengannya jarang bertemu. Mulailah kuberanikan diriku untuk menemuinya walau kutahu dia itu adalah seorang yang sangat sibuk dengan tugas profesinya, bahkan bisa dikatakan sedang hari liburpun dia masuk seperti biasa, sering kubilang “ kamu itu profesinya apa sih sebenernya satpam? Sambil ku tertawa :D ”
Sehari kemudian..
rencana ku untuk menemuinya mendapatkan titik
terang karena ku ketahui bahwa hari ini dia libur baik dalam tugas profesinya
maupun dalam kegiatan perkuliahannya. Dengan menggunakan kereta hitamku kupacu
dengan kecepatan cepat secepat burung burok, tak terasa kini aku sudah berada
disebuah jeruji yang membatasi halaman tempat tinggalnya dengan jalanan umum. Aku
mulai ragu apakah untuk menemui dirinya atau aku balik lagi kerumah, singkat
cerita mulai terlihat dari kejauhan sosok wanita dengan menggunakan baju hitam
dan celana jeans mendekat untuk menemuiku, pasti itu adalah nyai. Ternyata dugaanku
benar dan tidak meleset sedikitpun itu adalah nyai, dia menyuruhku untuk masuk
kedalam, namun karena malu dan awan sudah mulai menguning aku menolak ajakan
dari dirinya, dengan alasan sebentar lagi adzan magrib, selang beberapa menit
kemudian terdengarlah gemuruh adzan magrib dan aku izin kepadanya untuk menuju
ke mesjid ternama yang berada disebuah kawan tersebut, kemudian diapun
mengizinkan aku dan setelahku menjalankan kewajibanku, mulailah kuberanikan
untuk masuk kedalam rumahnya. Mulai lah pertama kalinya kuberbincang-bincang
dan bertatap muka dengan dirinya untuk pertama kalinya. Karena aku bingung
harus ngapain saat berjumpa dengannya, kemudian aku melihat ada kartu remi, yah
mulailah ku mengajaknya bermain kartu dengan tantangan yang “kalah ditarik
idungnya” dan diapun menyetujuinya “ayo siapa takut” saat bermain kartu kita
mulai merasa jenuh, karena tidak asik bermain hanya dengan 2orang walupun telah
bermain kartu dengan bermacam-macam permainan. Singkat cerita akulah yang
menang karena paling sedikit ditarik idungnya. Detak alunan jarum jam pun
konsisten berbunyi dan tak kusangka waktu sudah menunjukkan pukul 8.30 malam,
terdengar pula suara dari dalam tubuhku yang sudah tak bisa ajak kompromi. Kini
mulai lah terdengar 2bunyi yang saling bersaut-sautan. Mulai kuberanikan diri
untuk mengajaknya makan malam pertama kali dengannya, awalnya sih ia menolak
namun dengan semakin kencangnya bunyi yang bersautan kemudian ia pun menerima
ajakku. Kini kereta hitamku mulai berpacu menuju salah satu tempat makan
yang berada di bilangan Jakarta timur,
mulailah kita mengobrol ngalor ngidul tak lama salah satu pelayan mendatangi
kami dan memberikan menu, kota pilihlah menu yang paling favorite di sini yaitu
ayam mercon. Inilah pertama kalinya kita makan malam bersama dengan canda serta
tawa mengiringi makan malam kini. Berpacu dengan waktu tak kusangka bulan sudah
berada pada tempatnya, dan karena waktu juga yang memisahkan kita mala mini.
Hari demi hari kini hubungan serta
komunikasi kita mulailah intens, hanya jaraklah yang memisahkan kita, namun
jaman telah canggih dengan menggunakan handphone sema terasa dekat. Perhatian demi
perhatiaanpun sering diberikan bahkan rasa cemburupun kini mulai timbul. Kini tak
ada lagi cinta diam-diam yang ada hanyalah cintanya diam-diam, yah karena kita
belum siap untuk orang mengetahui tentang perkenalan kita saat ini.
Seiring berjalannya waktu mulailah
ada yang mengetahui tentang perkenalan kita, karena ada pribahasa “sepandai-pandainya
tupai melompat pasti dia akan jatuh juga”. Mulai lah ku kenal dengan
teman-temannya pertamanya sih ku kenal dengan sahabatnya yang sering kupanggil “mpo”
karena dia orang betawi asli dan orangnya asik diajak ngobrol ngalur ngidul
bahkan suka gak jelas apa yang sedang kita bicarakan, canda serta tawapun
sering sama-sama terdengar, bahkan tak segan cerita pribadi pun kita bicarakan,
baik tentang dirinya dan diriku. Tak Cuma mpo yang ku kenal, orang kedua yang
kukenal yang sering kupanggil “cius” wanita yang berbadan semampai serta
memiliki idung yang bisa dikatakan mancung ini merupakan sahabat dari nyai,
orangnya asik dan sering bercanda denganku karena kita pernah menjadi panitia
dalam salah satu acara kampus walaupun kita beda fakultas, namun jika bertemu
kita sempatkan untuk mengobrol walaupun hanya sesaat. Ada lagi teman kosannya
si nyai sering ku panggil dia “della” walaupun sebelumnya tak pernah bertemu
namun sekalinya bertemu seperti orang yang kenal, ntah karena sama-sama so
kenal atau karena apalah, ku ketahui bahwa della merupakan salah satu mahasiswi
terbaik difakultasnya karena dia anaknya pintar,cerdas dan baik, namun di dalam
percintaan ku ketahui bahwa dia masih belum mau untuk memikirkan cintainya,
wajarlah kalau mahasiswi yang pintar mah, pernah mempunyai pasangan tapi
umurnya sangat terpaut jauh sekali, dan sekarang dengar-dengar dekat dengan pria
yang umurnya dibawah dia 2tahun. Mungkin dia lebih nyaman bersama brondong. Sori
del Cuma mau mendeskripsikan ajh gak lebih dari itu. Hehehehe. Waktupun berjalan
dengan cepat kini ku kenal dengan banyak sahabat dari nyai ku panggil dia “abang”
orangnya baik, asik dan royal. Dan masih banyak lagi namun tak bisa kurincikan
satu persatu.
Kini hubunganku dengannya semakin
dekat, bahkan dalam seminggu pertemuanku dengannya hampir 3 kali dalam
seminggu, tak ada rasa bosan bahkan yang ada hanyalah rasa rindu, ini adalah
minggu yang terakhir ku berjumpa dengannya pada bulan mei, karena hari minggu
ini nyai akan menjalankan tugas profesinya selama 3 minggu di luar kota dan
kembali ke ibu kota pada awal juni, pada jum’at malam merupakan malam terakhir
dibulan mei bertemu dengannya, saat itu kita pergi keluar karena bosan. Disana kita
makan malam untuk yang kedua kalinya disalah markas Tentara di Jakarta timur. Canda
dan tawa mengiringi pertemuanku malam ini,nasehat nasehatpun terdengar jelas
ditelinga, bulan nan indahpun mengiringi pertemuan kita mala mini tak terasa
waktu pun semakin berjalan dan waktupun sudah larut malam, masih teringat jelas
nesehat nasehat yang diberikan. Saatnya kembali menuju tempat tinggal nyai. Dan
kini hanya suara dan pesan BBM saja yang sering kudapat darinya. Karena jarak
yang memisahkan kita dalam 3 minggu ini.
Semoga Sukses selalu buat profesinya
dan sampai berjumpa di ibu kota tanpa ada yang kurang dari sosok dirimu :)
Good night
Tidak ada komentar:
Posting Komentar